(Kompas) Kelapa, Gotong Royong, dan Solidaritas
Kompas, 2 November 2009, Hal. 2
Sekelompok anak laki-laki bermain bola di lapangan rumput. Mereka antusias karena salah seorang warga negara asing ikut bermain. Anak-anak itu akrab dengan si bule yang mereka panggil bule masuk kampung. Mereka seolah melupakan sejenak peristiwa gempa bumi, 30 September silam, yang meluluhlantakkan Sumatera Barat.
Sore itu, dua pekan silam, rombongan perusahaan asuransi Prudential mengunjungi Desa Padangkapas, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Di desa itu, perusahaan asuransi Prudential Indonesia bekerja sama dengan Posko Jenggala Jakarta membangunkan 127 rumah untuk penduduk, yang rumahnya roboh akibat gempa bumi.
Sebelumnya, Prudential melalui Posko Jenggala membagikan 1.000 terpal untuk tenda darurat bagi penduduk setempat. Prudential juga menyokong dana kepada organisasi nonpemerintah Save The Children dan Unicef untuk penanganan anak-anak.
Ketika terjadi gempa, banyak orangtua tidak berada di kampung itu. Mereka sedang merantau ke Surabaya, Semarang, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya. Anak-anak tinggal di kampung bersama kakek, nenek, paman, atau bibinya. Di desa ini, hanya dua orang korban tewas.
Rumah yang dibangun Posko Jenggala bersama Prudential itu berbahan kayu kelapa untuk tiang rangka, dinding, dan lantai. Atapnya dari bahang seng. Lantai hanya sekitar setengah meter di atas tanah. Semua rumah berukuran 6 x 6 meter, dengan satu ruang tamu, dua kamar tidur, ada dapur, dan kamar mandi. Memadai sebagai rumah semipermanen tahan gempa.
“Satu rumah selesai dibangun dalam tiga hari. Anggarannya sekitar Rp 15 juta,” ujar Andi Sahrandi, Koordinator Posko Jenggala yang diprakarsai pengusaha nasional dan pemilik Grup Medco, Arifin Panigoro.
Akan tetapi, mereka tidak muncul seperti sinterklas. Mereka datang untuk membantu, membangunkan rumah, dan membangkitkan spirit masyarakat. Setiap keluarga yang rumahnya roboh cukup merelakan dua pohon kelapa miliknya sudah otomatis dibangunkan rumah. Pohon kelapa itu pun diberi ganti rugi.
“Intinya, kami bangunkan mereka, ya rumah, ya semangat hidupnya untuk kembali bangkit dan mereka terlibat,” ujar Andi yang telah menjelajah ke seluruh daerah bencana alam seantero Nusantara, dari Aceh sampai Papua.
Karena pola gotong royong yang melibatkan masyarakat korban, dan memilih lokasi peruntukan bantuan bagi masyarakat pedesaan itu, Posko Jenggala tidak kesulitan mendapatkan bahan bangunan. Apalagi di Desa Padangkapas, banyak pohon kelapa milik masyarakat. Penduduk setempat pun antusias.
Kelapa dan gotong royong masih dimiliki masyarakat pedesaan. Ditambah kepedulian dan solidaritas dari perusahaan besar, terasalah ringan beban korban gempa tersebut.
“Upaya ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial kami untuk meringankan beban korban gempa,” ujar Nini Sumohandoyo, Marketing & Communication Director Prudential Indonesia.
Kesulitan
Padahal, seperti dilaporkan pekan lalu, Sumbar ini kekurangan kayu untuk membuat bangunan sementara, khususnya di daerah-daerah yang mengalami kerusakan terparah akibat gempa. Sebagian lembaga donatur dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) terpaksa mendatangkan kayu dari daerah lain, terutama di Pulau Jawa.
Sejumlah LSM dan donatur mulai mengarahkan pemberian bantuan kepada warga Sumbar korban gempa dengan membangun rumah tinggal sementara. Umumnya semipermanen dengan konstruksi bangunan berupa balok-balok kayu, tripleks.
“Sangat sulit mendapatkan kayu yang cocok untuk membuat rumah hunian sementara. Kalaupun ada, harganya sangat mahal. Lebih sering terjadi, ada harga, tetapi barangnya tak ada,” kata Presiden Direktur Dompet Dhuafa Ismail A Said di sela-sela acara pemberian bantuan 1.000 rumah hunian sementara bagi warga Kota Pariaman dan Padang Pariaman di Nagari Ulakan Tapakis, Padang Pariaman, Sabtu (24/10).
Harga kayu per kubik untuk jenis glugu atau batang kelapa mencapai Rp 1,4 juta per meter kubik. Sebelum gempa haganya cuma Rp 700.000 per meter kubik. Mahalnya kayu menyulitkan warga memperbaiki rumah mereka tanpa bantuan pihak lain.
Ismail terpaksa mendatangkan kayu dari Riau, Jambi, dan daerah perbatasan. Sebagian rumah pun dibangun dengan kayu-kayu yang tak lazim untuk bangunan, seperti kayu durian.
“Kami terpaksa menggunakan kayu-kayu bekas bangunan yang masih layak. Sebagian dari pohon durian yang saya potong. Kalau enggak begitu, saya tak mungkin dapat membeli kayu,” kata Rahmat (41), warga Nagari Ganting, Kecamatan V Koto Timur, Padang Pariaman.
Kebutuahan kayu sangat besar. Di seluruh Sumbar, Ada 135.233 unit rumah rusak berat akibat gempa. Belum terhitung ratusan ribu lainnya yang rusak sedang dan ringan. Sejak tiga pekan lalu, sebanyak 3.000 unit ruang kelas sementara di provinsi ini dibangun serentak agar siswa segera belajar. Akibatnya, kebutuhan kayu tak lagi terkejar stok yang tersedia di pasar. Pemerintah diharapkan mencari jalan keluar masalah ini.
Lembaga Kemanusiaan PKPU meski mendatangkan bahan dari Jawa. Ada 300 unit bangunan rumah sementara kini tengah dibangun PKPU, sebagian besar di Kabupaten Padang Pariaman, wilayah terparah terkena dampak gempa.
“Spesifikasi rumah sementara yang kami bangun memerlukan balok kayu yang ringan. Sayangnya, kami sulit mendapatkannya di sini, harus mendatangkan dari Jawa,” kata koordinator Pabrikasi PKPU untuk bencana gempa di Sumbar, Budi Kustiyana.
(DIS/HAN)
Incoming search terms:
- kayu glugu 1 kubik sama dengan
- berat jenis kayu perkubik
- flooring kayu kelapa tegal
- glugu dari pariaman
- gotong royong korban gempa
- harga batang kelapa
- harga kayu kelapa 1 kubik di lampung
- kayu glugu padang
- kayu kelapa padang